INFORMASI PUBLIK

Majalah internal Divisi Regional Janten (DADALI) kini telah tersedia dan dapat di download dengan format PDF

PERUM PERHUTANI DIVISI REGIONAL JABAR & BANTEN

  • Menuju Kehumasan Perum Perhutani Divisi Regional Janten Yang Handal
  • Rapat kepengurusan Pramuka Sakawanabakti (Munuju generasi muda yang mulia)
  • Apel siaga pengamanan hutan dan kesemaptaan Divisi Regional Jawa Barat & Banten tahun 2014
  • Kegiatan persemaian bibit pohon guna reboisasi
  • Kegiatan Penanaman Pohon guna Reboisasi dan rehabilitasi lahan
  • Kegiatan jumpa pers bersama wartawan media cetak & elektronik se Jawa Barat

Rabu, 02 Juli 2014

Berikan Tarif Kompetitif Untuk Getah Pinus

Bandung, 3 Juli 2014, Strategi menetapkan tarif kompetitif untuk gedah pinus dimainkan KPH Sumedang untuk menarik penyadap lokal.Beberapa manuver lainpun ditempuh.Muaranya cuma satu, mendongkrak produksi getah pinus.

Rangking KPH Sumedang dalam hasil produksi getah pinus terus merangkap naik.Strategi untuk mengoptimalkan sadapan-sadapan tidur dengan menambah tenaga penyadap berhasil meningkatkan produksi getah pinus.Sampai periode Mei 2014, dari produksi yang telah ditargetkan untuk 2014 sebanyak 1.772 ton, telah tercapai 469 ton.

KPH Sumedang memang tengah mengejar ketertinggalan produksi getah pinus nya.Tahun kemarin dari target produksi 1.700 ton, realisasinya mencapai 62 persen.Ketertinggalan tersebut dikarenakan kurangnya jumlah penyedap getah pinus diwilayah kerja KPH Sumedang.

" Ini PR prioritas untuk KPH Sumedang bagaimana biar tanaman dan produksi getah ini bagus.Untuk masalah sadapan, disini tenaga penyadapnya kurang.Penyadap akan ditambah untuk mengoptimalkan sadapan tidur yang jumlahnya masih banyak, " kata Administratur KPH Sumedang Agus Mashudi kepada Dadali diruang Humas dan Agraria KPH Sumedang pertengahan Juni lalu.

Untuk tenaga penyadap, Agus memprioritaskan penyadap lokal.Pasalnya, dengan memperkuat tenaga penyadap lokal, selain bertujuan melakukan pemberdayaan msyarakat lokal profesi penyadap bukan sampingan lagi.," ujar Agus.Dari upaya yang dilakukan, lanjut Agus berdampak pada jumlah penyadap lokal KPH Sumedang memberikan tarif yang kompetitif untuk getah pinus.

" Supaya penyadap tertarik untuk capaian sadapan nilainya harus diatas pekerjaan yang lain, intinya tarifnya kompetitif.Produktifitasnya harus didorong jadi buat masyarakat lokal profesi penyadap bukan sampingan lagi., " ujar Agus.Dari upaya yang dilakukan, lanjut Agus berdampak pada jumlah penyadap lokal di KPH Sumedang yang cenderung meningkat.

Langkah mendatangkan penyadap dari luar daerah juga ditempuh KPH Sumedang untuk menggenjot produksi getah pinus.Penyadap rata-rata berasal dari daerah Jawa Tengah, seperti Kabupaten Tegal dan Majenang.

Dijelaskan Kasi PSDH KPH Sumedang Agus Kurnia belum lama ini KPH Sumedang mendatangkan penyadap sebanyak 100 orang.Jumlah tersebut nantinya akan disebar ke empat BKPH dimana terdapat kawasan hutan pinus, yakni BKPH Tapomas, Manglayang Timur, Cadas Ngapar dan Tomo Selatan.

"Untuk kebutuhan penyadap yang datang dari luar daerah itu kami perhatikan benar mulai dari tempat menginap dan asuransi kecelakaan kerja.Kami terus berupaya agar sadapan bisa mencapai target."jelas Kurnia.

Tak berhenti penyadap, keseriusan KPH Sumedang juga dilakukan dengan penggunaan 19 unit alat sadap bernama Mujitech.Alat sadap hasil modifikasi dari mesin pemotong rumput ini memiliki keunggulan dalam hal kecepatan.

" Mujitech mulai efektif digunakan di KPH Sumedang bulan April 2014.Pakai alat ini hasilnya bisa dua kali lipat.Kalau penyadap pakai kudukul sehari bisa dihasilkan 300 quare, dengan mujitech bisa dua kali lipatnya," ujar Kurnia. (yd)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar